Jumat, 31 Desember 2010

Minat Wisata Pasca Bencana

Masihkah Yogyakarta di sebut sebagai dan kota budaya? Banyaknya tempat-tempat budaya yang dimiliki oleh Yogyakarta, menjadi daya tarik untuk pengunjung datang berkunjung. Entah dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan merupakan tempat wisata yang ditujuh oleh para pengunjung atau para wisatawan, yang merupakan peninggalan budaya yang tetap dirawat dan dijaga sebagai objek wisata daerah Yogyakarta. Selain tempat itu, ada juga temapt-tempat yang sering di kunjungi oleh para wisatawan atau para pengunjung, yang dijadikan sebagai wisata alternative, seperti pusat perbelanjaan yang berada di Malioboro, Tugu Yogyakarta, Monumen Jogja Kembali (MONJALI).

Malioboro
Membentang di atas sumbu imajiner yang menghubungkan Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi, jalan ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar tradisional semenjak tahun 1758. Setelah berlalu 248 tahun, tempat itu masih bertahan sebagai suatu kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan Malioboro.

Terletak sekitar 800 meter dari Kraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti “karangan bunga” menjadi dasar penamaan jalan tersebut.

Diapit pertokoan, perkantoran, rumah makan, hotel berbintang dan bangunan bersejarah, jalan yang dulunya sempat menjadi basis perjuangan saat agresi militer Belanda ke-2 pada tahun 1948 juga pernah menjadi lahan pengembaraan para seniman yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK) pimpinan seniman Umbul Landu Paranggi semenjak tahun 1970-an hingga sekitar tahun 1990.

Memasuki Malioboro, wisatawan akan disambut hotel legendaris di Yogyakarta. Semenjak pendiriannya pada tahun 1908, hotel yang mulai beroperasi semenjak 1911 ini telah membenahi dirinya, dari cottage hingga menjadi hotel megah berbintang empat dengan tetap mempertahankan pola arsitektur awalnya yang merupakan satu bangunan utama serta bangunan tambahan di sayap kanan dan kiri. Bernama awal “Grand Hotel De Djokdja” pada masa penjajahan Belanda yang hanya menampung tamu-tamu Gubernur Belanda saja, kini menjadi Inna Garuda yang bisa diakses oleh masyarakat luas.

Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain.

Jangan lupa untuk menyisakan sedikit tenaga. Masih ada pasar tradisional yang harus dikunjungi. Di tempat yang dikenal dengan Pasar Beringharjo, selain wisatawan bisa menjumpai barang-barang sejenis yang dijual di sepanjang arcade, pasar ini menyediakan beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik Pekalongan atau batik Solo.
Saat matahari mulai terbenam, ketika lampu-lampu jalan dan pertokoan mulai dinyalakan yang menambah indahnya suasana Malioboro, satu persatu lapak lesehan mulai digelar. Makanan khas Jogja seperti gudeg atau pecel lele bisa dinikmati disini selain masakan oriental ataupun sea food serta masakan Padang. Serta hiburan lagu-lagu hits atau tembang kenangan oleh para pengamen jalanan ketika bersantap. Bagi para wisatawan yang ingin mencicipi masakan di sepanjang jalan Malioboro, mintalah daftar harga dan pastikan pada penjual, untuk menghindari naiknya harga secara tidak wajar.

Mengunjungi Yogyakarta yang dikenal dengan “Museum Hidup Kebudayaan Jawa”, terasa kurang lengkap tanpa mampir ke jalan yang telah banyak menyimpan berbagai cerita sejarah perjuangan Bangsa Indonesia serta dipenuhi dengan beraneka cinderamata. Surga bagi penikmat sejarah dan pemburu cinderamata.

Tugu Yogyakarta
Tugu Yogyakarta adalah sebuah tugu atau menara yang sering dipakai sebagai simbol/lambang dari kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta. Tugu yang terletak di perempatan Jl Jenderal Sudirman dan Jl. Pangeran Mangkubumi ini, mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, kraton Jogja dan gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi.
Tugu ini sekarang merupakan salah satu objek pariwisata Yogya, dan sering dikenal dengan istilah “tugu pal putih” (pal juga berarti tugu), karena warna cat yang digunakan sejak dulu adalah warna putih. Tugu pal ini berbentuk bulat panjang dengan bola kecil dan ujung yang runcing di bagian atasnya. Dari kraton Yogyakarta kalau kita melihat ke arah utara, maka kita akan menemukan bahwa Jalan Malioboro, Jl Mangkubumi, tugu ini, dan Jalan Monument Yogya Kembali akan membentuk satu garis lurus persis dengan arah ke puncak gunung Merapi.

Banyak pengunjung yang mengabadikanfoto-foto bersama rekan, teman, atau saudara di Tugu Yogyakarta ini. Tugu ini ramai jika menjelang tengah malam. Pengunjung mendatangi Tugu untuk bersantai dan yang paling utama adalah untuk mengabadikan foto di Tugu khas Yogyakarta ini. Terkadang, Tugu ini terlihat sesak oleh pengunjung, yang kebetulan terletak di tengah Kota Yogyakarta. Entah apa yang membuat pengunjung tertarik pada Tugu Yogyakarta ini, namun pengunjung yang mendatangi Tugu ini selalu ada.


Monjali
Monumen ini dibangun pada 29 Juni 1985 dengan upacara tradisional penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Monumen Jogja Kembali didalamnya terdapat museum yang terdiri dari 3 lantai yang dilengkapi perpusatakaan dan ruang serba guna. Pada lantai 1 terdapat benda-benda koleksi: replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, patung, meriam, bentuk evokatif dapur umum dalam suasana perang kemerdekaan 1945-1949. Tandu dan dokar (kereta kuda) yang pernah dipergunakan oleh Panglima Besar Jendral Soedirman juga disimpan di sini.

Nama Yogya Kembali dipilih dengan maksud sebagai tetenger (peringatan) dari peristiwa sejarah ditariknya tentara pendudukan Belanda dari ibukota RI Yogyakarta pada waktu itu, tanggal 29 Juni 1949. Hal ini merupakan tanda awal bebasnya bangsa Indonesia dari kekuasaan pemerintahan Belanda.


Oleh: Remington Hendrik (153060035)

Kamis, 30 Desember 2010

Merapi Membawa Berkah



Yogyakarta terkenal dengan kota yang kaya akan tempat kuliner. Banyak sekali tempat-tempat makan yang bisa kita temui di Yogyakarta. Mulai dari makanan yang berlevel internasional sampai pada makanan yang tradisional. Aneka tempat makan, tempat jajanan pasar, lesehan, warung-warung di pinggir jalan, hingga rumah makan yang besar.
Kali ini, saya tertarik untuk mencoba salah satu hasil karya yang ada di Yogyakarta. Biasanya setiap pagi banyak sekali orang-orang yang keluar rumah untuk mencari makanan untuk sarapan. yang satu ini, mungkin tepat untuk dijadikan tempat kita untuk sarapan pagi.
Sarapan pagi memang agak berbeda dengan makan siang dan makan malambagi sebagian orang, namun untuk sebagian orang sama saja. Bagi yang ingin sekedar sarapan dan tidak ingin mencicipi makanan berat, soto salah satu makanan yang pas untuk dijadikan makanan untuk saparan. Karena soto tidak merupakan makanan berat, dan hanya sebagi penganjal perut dipagi hari.
Soto Si Mbok merupakan salah satu dari sekian banyak tempat sarapan soto yang ada di Yogyakarta. Usaha soto ini telah ada sejak lama. Berjalan melewati Jalan Solo, dan masuk ke dalam gang yang di sambut oleh gapura kampus Sanata Dharma. Tepatnya di Jl. Tasuro Pugeran Maguwoharjo, kita bisa jumpai tempat makan soto ini Si Mbok ini. Gampang di cari dan berada di pinggir jalan, tidak menjadi hambatan untuk mampir dan makan untuk sarapan di pagi hari.
Saat mencari tempat makan Soto Si Mbok, ternyata memang tidak sulit, dan saya langsung mapir dan memcicipi soto yang sangat ramai dikunjungi oleh pengunjung. Ada yang datang, ada yang pergi, demikianlah situasi dan aktivitas di warungSoto Si Mbok. Nama Si Mbok yang menjadi nama tempat makan ini, merupakan suatu gagasan yang muncul secara tidak senggaja. Adalah anak-anak dari ibu Karni dan masyarakat sekitar, yang secara terus-menerus memanggil ibu Karni dengan sebutan Si Mbok, menjadi ide untuk menjadikan warung makan stonya menjadi Soto Si Mbok.
Saat ngobrol dan bertanya-tanya dengan Si Mbok, ia mengatakan “Ini anak saya yang paling kecil, sering manggil saya dengan sebutan Si Mbok, eh malah diikuti oleeh masyarakat sekitar. Sangking seringnya, jadi kebiasaan aja di panggil dengan sebutan Mbok. Di samping itu, ternyata Si Mbok, menjadi nama keberuntungan mas, setelah buka usaha soto ini, usaha saya ini laris manis sampai sekarang, ungkap ibu Karni di sela-sela aktivitasnya melayani pembeli”.
Sambil makan, sambil ngobrol dengan Si Mbok, saya menjadi penasaran untuk tahu bagaimana usaha Si Mbok ini bisa awet sampai sekarang, apalagi sebagai tempat makan sekelas soto, yang mana kita tahu, banyak sekali terdapat tempat makan soto di Yogyakarta.
Ibu Karni ternyata memulai usahanya bukan dari berjualan soto, tapi mulai dari usaha Mie ayam, bakso. Setahun berjalan, semuanya tidak dapat bertahan, karena banyaknya penjual-penjual yang memiliki usaha yang sama, an akhirnya ibu Karni memutuskan untuk tidak melanjutkan usahanya itu, karena dianggap tidak mendapatkan untung dan balik modal. Hal itu terjadi pada awal tahun 1999. Awal 2000 ia mempunyai ide untuk membuka warung dengan format yang berbeda, yaitu warung nasi sayur. Lagi-lagi, tidak mendapatkan apa-apa dari usaha itu, yang hanya bertahan lima bulan.
Inilah awal dari segalanya. Berawal dari segala kegagalan yang perna dialami, ibu Karni terus mencoba usaha yang bisa ia tekuni. Pilihannya jatuh pada usaha soto. Alasannya jatuh pada soto adalah dimana soto menjadi makanan ringan untuk sarapan. Pilihan itu trnyata tidak salah dan sangat tepat. Pertengahan tahun2000 usaha soto ini di buka dan dimulai dari awal, sama halnya denganusaha-usaha yang lainnya. Dengan harga satu porsi soto pada masa itu Rp. 1.500. Usahanya terus ia geluti dan jalani, dan ia mendapatkan hal yang berbeda dari usaha-usaha lainnya.
“Awalnya usaha mie ayam dan bakso mas, usaha saya malah bangkrut. Tak lanjuti denga usaha nasi sayur, malah sama juga. Setelah modal dikumpulkan kembali, buat lagi usaha soto, malah bertahan sampai sekarang mas, tutur Si Mbok. Usaha yang bisa bertahan hingga sampai satu tahun, itu ciri usaha yang bisa bertahan lama. “Waktunya satu tahun aja mas, dimana kalau kita ingin tahu usaha itu bisa bertahan. Kalau satu tahun udah lewat, bearti usaha itu bisa bertahan lama, tambah ibu lima anak ini.
Semakin lama bertahan, semakin banyak informasi yang saya dapai dari usaha Si Mbok ini. Hingga saat ini, soto Si Mbok sudah memiliki lima cabang yang berada di Yogyakarta. Ini semua berkat dari ketekunan dan keseriusan ibu Karni dalam mengelolah usaha sotonya ini. Usaha ini merupakan usaha bersama atau usaha keluarga. Karena untuk pekerja yang ada di warung soto Si Mbok, ibu Karni memperkerjakan saudara-saudaranya yang bersedia berkerja pada ibu Karni. Untuk gaji karyawan yang ada di warung Si Mbok, bermacam-macam. Untuk yang lama, mencapai Rp. 800.000, tapi untuk karyawan yang baru Rp. 500.000-Rp.650.000.
 Pada tahun 2004, ibu Karni membuka cabang soto Si Mbok II dan di kelolah oleh Marlan, keponakan dari ibu Karni sendiri. Belokasikan di Jl. Kepusari 18, depan kampus Sanata Dharma Maguwoharjo. Bergegas untuk menuju Si Mbok II, mengendarai motor, melelui jalan menuju ke arah Stadion Maguwoharjo, dan tepat di depan kampus Sanata Dharma, akhirnya saya jumpai warung soto Si Mbok II. Di sambut oleh seorang anak muda, yang menyangka saya hendak untuk memesan soto. Langsung saja saya potong, dengan memperkenalkan diri saya, dan apa tujuan saya. Kami duduk sejenak, dan ngobrol-ngobrol.
Untuk warung soto Si Mbok II, ayam yang dibelanjakan setiap harinya mencapai 10-15 kg, dan itu akan habis jika sampai sore. Pengunjung yang datang ke soto Si Mbok II kebanyakan dari mahasiswa dari mahasiswa yang berasal dari Sanata Dharma, dan dari masyarakat sekitar juga. Untuk pendapatan perharinya, soto Si Mbok II ini mencapai Rp. 700.000-Rp. 850.000 perhari. Merasa cukup mendapatkan informasi, saya diberi tahu abhwa ada satu lagi cabang dari soto Si Mbok, yaitu Si Mbok III, yang berada di Jl. Candi Gendang.
Berjalan terus, menyusuri jalan yang bisa di lewati, sambil melihat kiri-kanan jalan untuk mencari tahu letak dari soto Si Mbok III. Setelah melewati Pamela, turunan sedikit, akhirnya saya mendapati waung soto Si Mbok III. Kebetulan lagi sepi, dan tak ada pengunjung di warung. Saya berjumpa dengan seorang wanita dan langsung berkenalan, namanya Janti. Mba Janti merupakan menantu dari ibu Karni. Memulai usaha soto berkat dari ibu Karni, tahun 2007 berdiri, sampai sekarang. Disela-sela obrolan, ada pelangan yang mampir untuk makan soto, dan mba Janti melayani para pelanggannya.
Untuk soto Si Mbok III, mba Janti mempersiapkan ayam 10kg-20kg perharinya, karena di soto Si Mbok III cukup rame di kunjungi oleh orang. Ketika ditanya tentang untung atau pendapatan perhari, mba Janti menyebutkan mencapai Rp. 1000.000 perhari. “Ini belum untung mas, tapi masih pendapatan kotor, belum di potong untuk belanja keperluan warung, Ungkapnya”.

Pengaruh Merapi
Bak mendapatkan rejeki, dan bisa dikatakan Merapi membawa berkah. Mungkin itulah yang di alami oleh Si Mbok. Ketika ditanya bagaimana usahanya ketika bencana merapi, ibu Karni langsung menyebutkan, warung sotonya sangat ramai dan laris. Banyak dari warga atau masyarakat. dan banyak juga dari para relawan yang ketika lewat, mampir untuk makan soto Si Mbok.
“Perna mas, satu hari saya mendapat penghasilan yang tidak seperti biasanya, mencapai Rp. 1.700.000. itu terjadi pas bencana merapi mas” ungkap bu Karni senang.
Ternyata dengan adanya bencana Merapi, tidak membuat masyarakat atau pengunjung enggan keluar rumah untuk mencari makanan. Memang saat itu, yang membuat rame warung soto Si Mbok adalah para mahasiswa yang beraktifitas dalam membantu korban merpai, ada dari para relawan yang kebetulan lewat dan menyempatkan untuk mampir menikmati soto Si Mbok.
Saat bencana Merapi, memenag tidak ada niat untuk menutup warung, memang bukanya agak siang, namun itu semua menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi warung soto Si Mbok, yang mendapatkan keuntungan di saat Merapi.
“Pengunjung malah rame mas, mahasiswa, relawan yang kebetulan lewat untuk mencari makanan. Kan kebanyakan warung-warung pada tutup tuh, jadi warung saya jadi rame de mas” tambahnya dengan penuh canda.
Pertualangan saya berakhir di warung soto Si Mbok III, dan saya di bungkuskan satu porsi soto dari Mba Janti sebagai ucapan terima kasih telah berkunjung ke setiap cabang warung soto Si Mbok.




Mantap…..


Oleh: Remington Hendrik (153060035)
Narasumber: Ibu Karni, Marlan, Mba Janti.

Selasa, 28 Desember 2010

Kali Code jadi Objek Wisata



Kota Yogyakarta memang sarat predikat, baik yang berasal dari sejarah maupun potensinya. Predikat yang melekat selama ini adalah sebagai kota perjuangan, kota budaya, kota pelajar serta kota pariwisata. Sebutan kota perjuangan ini ditorehkan berdasar peran kota Yogyakarta dalam konstelasi perjuangan bangsa Indonesia pada jaman colonial Belanda, aman penjajahan jepang, maupun jaman ketika bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan.

Sebutan kota budaya berkait erat dengan peninggalan-peninggalan budaya bernilai tinggi, sejak Kasultanan dan Kadipaten Pakualaman berdiri, hingga sekarang masih dilestarikan keberadaannya.  Sedangkan salah satu obyek wisata yang selalu menjadi salah satu tujuan para pelancong adalah kawasan nostalgia Malioboro. Bahkan ada pomeo, siapapun belum ke Jogja bila belum menginjakkan kaki di Malioboro.
Selain memiliki obyek wisata andalan, Yogyakarta sebenarnya memiliki satu kawasan yang dapat dijadikan obyek wisata alternative, yakni kawasan pinggiran kali code. Salah seorang tokoh masyarakat pinggiran kali Code, Totok,  menyebutkan, kawasan code diakui mempunyai potensi kepariwisataan,  dan Jogja memerlukan obyek wisata alternative.  

Secara karakteristik, kawasan kali Code sendiri memiliki ciri-ciri yang menarik di setiap penggalan jalan yang dibelahnya. Seperti yang dapat diamati dari atas jembatan Sarjito. Bila memandang ke arah utara, yang terlihat adalah hijauan tumbuhan yang subur di sana, serta lingkungan yang asri. Dengan demikian, ini akan menjadi sebuah bentuk kenyamanan tersendiri yang dapat dinikmati wisatawan.  
Sedangkan bila berdiri di atas jembatan Sarjito sisi selatan, yang terlihat adalah rumah rumah sederhana di pinggi kali Code, namun tertata rapi.  Sedangkan di latar belakang terlihat bangunan tinggi yang menjulang. Sementara itu, bila pelancong sedang berada di pusat kota Yogyakarta, misalnya berdiri di atas jembatan Jendral Sudirman dan melihat kea rah selatan, sebagaimana dikatakan Totok, pinggiran kali yang dulu kumuh,  kini tertata rapi, berkat sentuhan kemanusiaan almarhum Romo Mangun, yang pernah tinggal lama di kawasan ini. 
Namun, sebagaimana disebutkan Bagus Sumbarja, anggota DPRD Kota Yogyakarta, untuk mengelola kawasan wisata baru yang sedemikian luas, pasti dibutuhkan penanganan yang terpadu, baik oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat. Kali Code, yang membelah tengah kota Yogyakarta/ kini tak lagi kumuh. Masyarakat yang tinggal di Pinggiran kali ini, kelak diharapkan dapat memetik buahnya, yakni membanjirnya pelancong asing maupun nusantara, bukan hantaman banjir bandang yang pernah mereka derita belasan tahun silam.


Oleh: Remington Hendrik (153060035)