Jumat, 14 Januari 2011

Monjali, Mengimbas Jejak Peristiwa Heroik

Monjali, Mengimbas Jejak Peristiwa Heroik
Monjali menjadi sebuah pertanda bahwa Indonesia kembali pada pangkuan ibu pertiwi. Selama 6 jam kala itu 1 maret 1946 pasukan indonesia berhasil memukul mundur pasukan belanda dengan penguasaan itu Yogyakarta berhasil di duduki. Pasukan belanda di kabarkan kocar kacir saat menghadapi serangan dari pasukan Indonesia yang di perintahkan oleh Sri Sultan Hemengkubuwono IX.
Tidak Hanya itu, pertempuran yang terkenal dengan nama serangant umum 1 maret ini juga menjadi sebuah pembuktian bahwa negara indonesia masih ada, Indonesia masih di pangkuan ibu pertiwi. Berita ini tidak hanya di ketahui di Indonesia, kegagahan pasukan nusantara juga terdengar hingga ke India dan akhirnya sampai ke PBB di new York.
Kisah di atas merupakan sepenggal cerita kecil mengenai bagaimana heroik dan gagah perkasanya para pejuang Indonesia dahulu dalam mempertahankan Indonesia dari penjajah. Kini, Dentuman meriam, Desingan peluru, jeritan bayi, dan komando tentara sudah tak terdengar lagi. Rimbun pohon tipan semilir angin menyusup memberi hawa sejuk bagi setiap orang yang kala itu berada di Monumen Jogja kembali alias Monjali yang terletak di Jl.lingkar utara itu.
Gelak tawa dan derai keringat membasahi sekujur tubuh mereka, entah lelah setelah mengamati berbagai isi dalam monumen itu ataukah kepanasan dengan suhu jogja yang memang akhir-akhir ini terasa menyengat.
Terlihat ekspresi wajah dari mereka para pengunjung yang sebagian besar sangat menikmati dan memancarkan keceriaan kala mengamati berbagai peninggalan “heroik” para pejuang itu. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, Tidakkah ada sedikit rasa, rasa yang sulit di jelaskan tentang betapa besarnya jasa para pejuang kita dulu. Tidakkah ada sedikit niat, niat untuk merenung.
Rasa-rasanya semua larut dalam imajinasi fana tentang kegagahan Monjali. Namun ternyata ada beberapa pengunjung yang terlihat memang berbeda. Yusuf, pengunjung monumen yang merupakan seorang mahasiswa mengatakan bahwa Monumen Jogja kembali sepatutnya memiliki porsi yang sedikit lebih sakral di bandingkan tempat wisata yang lain. Selain dari tempat ini sebagai penghormatan bagi para pejuang yang dulu mempertaruhkan nyawanya, tempat ini juga menjadi penanda bahwa kala itu Indonesia memang di kuasai oleh indonesia, bukan Belanda.
Berbagai replika seperti pesawat, tank baja dan ruang hening menjadi sebuah picu yang membuat kita larut dalam bayangan gelap akan sepak terjang militer kita. Gagah, perkasa, satria dan segelintir istilah lain melambangkan monumen ini.
Dari berbagai tempat yang ada di Monjali, mungkin yang dapat di golongkan sebagai tempat paling “sakral” adalah tempat hening. Tidak mengherankan juga jika tempat hening ini di letakkan di lantai paling atas. Di sini kita semua dapat hening sejenak untuk berdoa, bersyukur atau apa saja lah yang dapat di lakukan disini, tentunya dalam keadaan hening.
Selama ini perjuangan bangsa hanya bisa didengar melalui guru-guru sejarah di sekolah, atau cerita seorang kakek pada cucunya. Monumen Yogya Kembali memberikan gambaran yang lebih jelas bagaimana kemerdekaan itu tercapai. Melihat berbagai diorama, relief yang terukir atau koleksi pakaian hingga senjata yang pernah dipakai oleh para pejuang kemerdekaan. Satu tempat yang akan memuaskan segala keingin tahuan tentang perjalanan Bangsa Indonesia meraih kemerdekaan.
Feature
Rian Surya O/153070369

Tidak ada komentar:

Posting Komentar